21 September 2015

Berperan di berbagai judul anime yang tak terhitung jumlahnya, menerima dukungan fanatik dari para fansnya- itulah Kana Hanazawa. Saat ini, Kana sedang berperan aktif di industri musik. Setelah diskusi mengenai perasaannya terhadap konsernya di Budokan, kami menanyakan padanya mengenai album ketiganya, Blue Avenue, serta kehidupan pribadinya.

Baca bagian 1 interview disini.


[Profil Kana Hanazawa]

Penyanyi dan pengisi suara. Memulai karirnya di industri sejak kecil sebagai aktris cilik, dan memulai debutnya sebagai pengisi suara pada umur 14 tahun melalui peran Holly Mad-thane di serial anime Last Exile. Popularitasnya di industri terus meningkat berkat kualitas suara dan bakatnya dalam berakting. Sejak itu, ia telah berakting di lebih dari 100 judul anime dan game. Saat ini, ia adalah salah satu aktris sulih suara terbaik di Jepang. Ia memulai debutnya sebagai penyanyi pada Februari 2013, dan sejak merilis single pertamanya Hoshizora Destination di bawah label Aniplex pada bulan April di tahun yang sama, ia sudah merilis delapan single. Album pertamanya, Claire, rilis di bulan Februari 2013, dan album keduanya, 25, rilis pada Februari 2014. Album ketiganya, Blue Avenue, baru dirilis pada bulan April 2015, dan saat ini (Juni 2015), ia sedang melakukan live tour konser di Jepang.


Album Yang Ketiga Adalah Tantangan Bagi Saya


—Tema dari album ketiga anda, Blue Avenue—yang juga menjadi nama tur nasional anda- adalah New York. Bagaimana ceritanya tema ini dapat terpilih?

Hingga kini saya mendapat kesemapatan untuk melantunkan berbagai jenis lagu. Album kedua saya memiliki 25 lagu. Di album terbaru saya, Blue Avenue, karena ketertarikan saya ke lagu dengan irama jazz, saya mencoba untuk menantang diri saya dengan menyanyikan lagu-lagu bernuansa jazz.

Semuanya bermulai dari event live akustik saya, Kana Matsuri. Mulai dari tahun lalu, saya menemukan bahwa sensasi memainkan musik hanya dengan gitar, piano, dan diri saya sendiri sangatlah menyenangkan. Setelah sempat menyinggung ide bahwa saya ingin membawakan lagu-lagu seperti ini (di album saya), diskusinya berubah menjadi, “Kami ingin kamu mencoba menantang berbagai macam genre lagu.” Dalam prosesnya, kami menyadari bahwa jika kami menggunakan tema New York, kami dapat memasukkan lagu dengan genre yang ini, genre yang itu, dan itulah bagaimana tema New York akhirnya terpilih. Termasuk juga genre lagu seperti reggae dan fusion yang belum pernah saya coba sebelumnya.


—Setelah ditentukan bahwa anda akan mencoba menantang berbagai genre musik di album terbaru anda, apakah anda juga mulai mendengarkan genre-genre musik seperti jazz dan reggae?

Saya menerima banyak rekomendasi musik dari Katsutoshi Kitagawa (ROUND TABLE), yang bertindak sebagai sound producer, seperti pianis jazz Keith Jarrett, James Brown, Billy Joel, dan masih banyak lagi lainnya. Saya mendengarkan musik mereka berulang-ulang kali, sembari memikirkan apakah saya dapat menjadi sebebas mereka dalam bernyanyi.


—Album ini menampilan beberapa adegan yang diambil langsung di kota New York. Bagaimana kota tersebut?

Kami melakukan syuting di depan Times Square, dan The Dakota. Arsitektur New York memiliki skala yang sangat besar dan sangat bergaya. Bahkan di Starbucks, ukuran cup kecil adalah ukuran untuk cup besar di Jepang; saya sangat terkejut akan hal tersebut. Saya juga sempat mengunjungi sebuah jazz bar. Di jazz bar di Amerika, suasana ruangan menjadi sangat menarik saat para penonton berbicara dengan para musisi di atas panggung, hingga siapapun bebas leluasa untuk naik ke atas panggung jika mereka ingin; hal tersebut sangat mengejutkan bagi saya.


3rd Album Blue Avenue Regular Edition Jacket © Aniplex Inc. Hak cipta dilindungi.


—Apa daya tarik dari album ini?

Hal yang paling menarik dari album ini adalah adanya lagu-lagu dari berbagai macam genre untuk anda nikmati. Berkat pengalaman, saya tidak memiliki rasa negatif terhadap genre yang baru pertama kali saya nyanyikan, dan lebih dari itu, saya dapat menyanyikan lagu-lagu tersebut dengan cara yang saya inginkan. Saya menulis sendiri lirik untuk lagu “Pool”, dan hasil akhirnya adalah lagu dengan nuansa yang serius dan berat. Awalnya saya kira jika saya menyanyikannya dengan nada yang serius maka akan tercipta suasana suram yang tidak perlu, jadi saya mencoba untuk menyanyikannya secara riang. Namun suasananya terasa sangat salah. Untuk referensi, saya mencoba mendengarkan lagu-lagu Fishmans 1, dan saya belajar bahwa untuk lagu dengan suasana serius, baiknya dinyanyikan secara serius juga. Jadi saya mencoba untuk memasukkan perasaan-perasaan semacam itu ke lagu saya. Saya pikir, lebih baik jika saya berusaha menyanyi sekuat tenaga seperti yang dilakukan Fishmans, sehingga akhirnya saya memutuskan untuk menyanyikan “Pool” dengan nada yang serius.


—Di album ini, anda ditantang untuk tak hanya menulis lirik untuk lagu “Pool”, namun juga untuk lagu “Tap Dance no Oto ga Kikoetekitara”.

Memang sulit untuk menyusun melodi sebuah lagu, baru kemudian memberinya lirik. “Tap Dance no Oto ga Kikoetekitara” adalah lagu yang singkat. Pak Kitagawa memberinya tema “tap dance”, dan saya menulis lirik yang merefleksikan keinginan saya agar semua orang dapat bahagia dan bersenang-senang dengan lagunya. Sepertinya saya sangat merepotkan Pak Kitagawa dengan lagu ini.


—Maksud anda?

Setelah saya menyampaikan lirik saya ke Pak Kitagawa dan lirik tersebut di-edit, saya merasa versi yang sudah direvisi sudah tidak merefleksikan apa yang ingin saya sampaikan, jadi saya bersikeras agar lirik tersebut ditulis kembali (tertawa). Walaupun saya sendiri merasa hal itu sangat merepotkan, saya tetap bertindak seperti itu dan terus mendesak hal tersebut. Namun untuk “Pool”, liriknya ditulis terlebih dahulu, sehingga saya dapat menyusun lirik sesuka hati saya.


—Dari mana datangnya inspirasi untuk lirik tersebut?

Ketika saya masih kuliah, saya mengambil jurusan sastra dan sangat gemar membaca novel. Saya juga mengambil kelas menulis puisi. Maka dari itu, memulai proyek untuk mengekspresikan apa yang saya suka dan perasaan-perasaan yang ada pada diri saya melalui tulisan adalah sesuatu yang sudah pernah saya lakukan sebelumnya. Rasanya, tidak jauh berbeda dengan masa-masa itu.


—Siapa saja novelis favorit anda?

Novelis wanita Jepang seperti Kanako Nishi, Hiromi Kawakami, Amy Yamada, dan lain-lain. Walaupun saya juga menyukai karya-karya penulis seperti Haruki Murakami, saya merasa paling mengerti dengan cerita-cerita novelis wanita seperti mereka, yang membuat saya berpikir “Aku ingin menjadi wanita yang seperti ini.” Tanpa saya sadari, ujung-ujungnya saya membaca karya mereka.


—Kini, merchandise dari konser live anda juga sedang dijual di Tokyo Otaku Mode Premium Shop. Mohon bagikan komentar anda mengenai beberapa merchandise yang dijual.

Beberapa merchandise yang ingin saya komentari adalah merchandise yang tidak dijual di tempat lain. Kini, bersamaan dengan musim panas, kami menjual benda yang disebut “Ka Nainai”, yaitu gelang yang mungkin saja dapat mengusir nyamuk (tertawa). Kaleng tempat gelang tersebut memiliki gambar burung kenari berwarna kuning yang menurut saya terlihat lucu dan sangat Jepang. Mohon dilihat.

Kami juga menyediakan memory stick USB bernama “Kanabi”. Dalam USB stick tersebut terdapat suara system komputer dan sebuah drama audio pendek. Drama tersebut dibuat berdasarkan karakter orisinil yang saya buat sendiri, dan naskahnya disusun oleh penulis naskah Shintaro Asanuma. Untuk mengisi suara para karakter, saya menerima banyak bantuan dari para pengisi suara yang saya sukai dan saya pilih secara pribadi untuk memainkan peran di drama tersebut.

Selain itu terdapat pamflet konser berisi 60 halaman. Walaupun seperti biasanya pamflet konser berisi banyak konten, untuk kali ini terdapat ilustrasi diri saya oleh berbagai pembuat manga yang saya tahu, interview, dan banyak konten lainnya. Terdapat juga buklet dan foto di dalamnya, jadi pamflet tersebut diisi dengan berbagai macam konten.


Aku Ingin Bepergian Ke Berbagai Negara Dan Bertemu Dengan Semua Orang


—Seperti apa pengalaman anda ketika pergi ke luar negeri, baik untuk event maupun jalan-jalan?

Untuk event, saya sudah pernah mengunjungi tempat-tempat seperti Singapura dan Hong Kong. Ketika saya kecil, saya pernah sekali mengunjungi Australia. Saya masih ingat orang-orang mengadakan barbekyu; Australia adalah negara yang terasa tidak asing bagi saya. Maka dari itu saya sangat senang ketika saya dapat mengunjungi Australia lagi untuk syuting video klip single saya, “Happy Endings.”


—Seperti apa komunikasi anda dengan para fans dari luar negeri di event-event?

Di Hong Kong saya sangat sibuk sehingga hanya mendapat satu kali kesempatan untuk pergi keluar. Karena saya tidak mendapat kesempatan untuk bertemu dengan para fans saya yang berada di luar negeri, saya terus bekerja keras dengan sekuat tenaga. Saya sering mendapat surat penggemar dari fans saya yang berada di luar negeri. Beberapa surat bahkan ditulis dengan bahasa Jepang dibawah tulisan bahasa Inggrisnya.

Ketika saya pergi ke Hong Kong, saya juga sempat melihat kerumunan besar para fans saya. Saya sudah pernah merilis photo book sebelumnya, namun event tersebut adalah event anime yang tidak terkait dengan hal itu. Walaupun begitu, orang-orang memegang photo book saya di tangan mereka dan berteriak “Kana! Kana!” Saya sangat terkejut.

Selain itu, saat saya melakukan acara radio untuk anime Oreimo, saya terkejut melihat banyaknya surat penggemar yang datang dari luar negeri. “Ternyata ada fans sebanyak ini!?” pikir saya. Saya telah merasakan secara pribadi betapa semangatnya para fans animasi Jepang yang berada di luar negeri. Saya bermimpi dapat bepergian ke berbagai negara dan berjumpa dengan para fans di luar sana suatu hari nanti.


© Aniplex Inc. Hak cipta dilindungi.


—Negara mana saja yang ingin anda kunjungi?

Saya ingin mengunjungi Jerman, karena saya memiliki banyak pengalaman dengan hal yang terkait dengan Jerman. Misalnya, saya memiliki teman yang berasal dari Jerman, dan saya mengambil jurusan bahasa Jerman waktu kuliah. Ada tempat yang disebut Rute Dongeng di Jerman; saya ingin sekali coba berkunjung kesana. Saya juga ingin merasakan disambut oleh orang-orang yang mengenakan pakaian tradisional. Saya juga ingin mengunjungi Inggris dan berbagai daerah lainnya.


—Sedikit merubah topiknya, apa yang biasa anda lakukan di hari libur anda baru-baru ini?

Sekitar seminggu sebelum hari libur saya, saya mulai memikirkan dan menyusun rencana apa saja yang akan saya lakukan pada hari itu. Biasanya saya melakukan hal seperti menonton dua film di satu hari, atau jalan-jalan dan mengunjungi berbagai bakery. Biasanya sendiri (tertawa). Baru-baru ini, di hari libur saya suka jalan-jalan dan memikirkan apa yang akan saya ucapkan ketika meng-MC di pertunjukan live. Ketimbang hanya berdiam di rumah, mengunjungi berbagai tempat, kafe, atau mendengarkan pembicaraan orang lain membantu saya untuk memunculkan ide-ide baru.


—Apa kesalahan yang baru-baru ini anda alami?

Hmm, umumnya saya tidak terlalu menyadari kesalahan yang saya buat sendiri; saya tipe orang yang baru sadar kalau diberitahu oleh orang lain. Tetapi satu hal yang saya ingat baru-baru ini adalah kejadian yang terjadi ketika saya sedang berada si suatu jazz bar di Jepang. Terdapat kukis yang kelihatan mewah di atas es krim yang saya pesan, dan saya mencoba untuk memakan kukis renyah tersebut tanpa menimbulkan suara, dengan membelahnya menggunakan garpu saya. Namun kukis tersebut retak dengan suara yang sangat keras, dan remah-remahnya berceran di atas meja dan lantai. Saat itu, pikiran saya adalah “Ini hal paling buruk yang dapat terjadi!” dan rasanya saya ingin menangis.


—Apa tantangan yang ingin anda coba untuk kedepannya?

Mulai sekarang, saya akan melakukan banyak tur. Di setiap tempat yang saya kunjungi, saya ingin memberikan penampilan yang akan diingat terus oleh orang-orang. Saat ini, saya sedang berpikir keras bagaimana caranya agar saya dapat memberikan semua orang pengalaman yang menyenangkan dan menggembirakan. Satu hal lainnya yang ingin saya coba tekuni untuk kedepannya adalah membaca puisi. Saya sudah tertarik untuk melakukannya sejak lama.

Selain itu, saya juga sempat melakukan persiapan sebelum tampil di Budokan, dan saya bersyukur sudah melakukannya. Tahun ini saya mulai melakukan latihan otot sekitar sekali atau dua kali setiap minggu. Membangun stamina sangat membantu saya untuk dapat sepenuhnya menikmati pertunjukan live saya. Ketika saya berjalan di lidah panggung melewati para penonton, dan para fans berada di jangkauan lengan saya, hal tersebut membuat saya ingin melewati jalan tersebut lagi dan lagi. Tetapi saya membutuhkan stamina untuk dapat melakukan perjalanan itu, jadi saya senang sudah berlatih untuk hal tersebut.


— Perasaan seperti apa yang ingin anda utarakan kepada para fans yang datang untuk melihat anda menyanyi secara langsung di konser anda?

Ketika anda bekerja di industri sulih suara, anda jarang mendapat kesempatan untuk bertemu dengan orang-orang yang mendukung anda atau kesempatan untuk bersenang-senang bersama di ruangan yang sama. Karena itu, surat-surat yang saya terima dari para fans berisi pesan seperti, “Kami sangat menantikan penampilan langsungmu!” Di pertunjukan live, saya bernyanyi dengan harapan suara saya dapat menciptakan ruang dimana saya dapat memberikan dorongan dan semangat untuk semua fans saya.


© Aniplex Inc. Hak cipta dilindungi.


—Terakhir, mohon tinggalkan pesan untuk para pembaca.

Proyek-proyek saya di bidang musik, dengan berbagai fokusnya, sedang berlangsung saat ini secara cepat di seluruh Jepang. Walaupun saya khawatir dengan stamina para fans yang mengikuti saya kemanapun saya pergi, ketika saya bertemu dengan semuanya dan merasakan kebahagiaan semua orang secara langsung, saya juga menjadi penuh dengan energy, dan merasa sangat senang akan terbentuknya ruangan yang positif ini. Untuk mereka yang baru datang untuk pertama kalinya, silahkan datang dan bergabung. Dan tentunya saya dengan rendah hati juga menantikan kedatangan para fans dari luar negeri.

1 Sebuah band Jepang. Dibentuk pada tahun 1987, mereka menghasilkan lagu-lagu pop dengan gaya reggae. DI kemudian hari mereka mulai memasukkan unsur rock dan hip-hop di komposisi musik mereka, serta mencoba berbagai tipe musik. Setelah kematian vokalis dan gitaris mereka Shinji Sato akibat serangan jantung, mereka menghentikan aktifitas mereka.

Situs Resmi Kana Hanazawa

Artikel ini adalah artikel asli Tokyo Otaku Mode.

Related article