18 November 2015

Pernikahan selalu menjadi sebuah target bahkan mimpi setiap gadis dari segala usia. Hal tersebut juga dirasakan oleh para gadis di Jepang. Namun pada tahun-tahun belakangan ini, perihal pernikahan perlahan mulai berubah. Ada peningkatan yang cukup signifikan dalam usia pada pernikahan baik bagi pria maupun wanita.

Berikut adalah grafik yang menunjukkan rata-rata dari pernikahan pertama baik untuk pria (warna biru) maupun wanita (warna merah). Dan seperti yang dapat terlihat, rata-rata usia pernikahan meningkat dari tahun ke tahun untuk kedua jenis gender tersebut (Pada tahun 2013 rata-rata usia pria: 30.9 tahun dan wanita: 29.3 tahun). Tingkat usia dari kedua gender tersebut telah meningkat dari 6-7 tahun selama sekitar 60 tahun belakangan ini.


平均初婚年齢(歳) >> Rata-rata Usia Pernikahan Pertama (Umur)
夫、2013年 >> Pria (Suami), Tahun 2013
妻、2013年 >> Wanita (Istri), Tahun 2013


平均初婚年齢(歳)(今世紀分) >> Rata-rata Usia Pernikahan Pertama (Umur)(Abad Saat Ini)

Banyak yang mengatakan bahwa hal ini disebabkan oleh kebebasan untuk mencintai meningkat sejak tahun 1980-an. Sebelumnya, Jepang biasanya memiliki sebuah tipikal pernikahan, yaitu pernikahan yang terjadi dengan cara bertemu calon pasangannya di kantor yang biasa disebut dengan “Shokuba Renai (Percintaan di Kantor)”, atau pernikahan dengan cara “Omiai”, yaitu mempertemukan pria dan wanita yang ingin menikah. “Omiai” saat ini dikategorikan sebagai suatu budaya yang sudah ketinggalan zaman, dan kebanyakan orangtua lebih memilih calon yang pantas ketimbang memilih pria dan wanita yang benar-benar ingin menikah.

Namun seiring dengan adanya kebebasan untuk mencintai, berkembang pula kebebasan untuk mengakhiri hubungan, dan kebebasan untuk memilih kapan untuk menikah pun turut berkembang. Slogan yang populer di kalangan masyarakat saat ini adalah “Wanita, pergilah berburu, dan pria, pantaskanlah dirimu”. Para wanita tidak bisa hanya diam dan menunggu pangerannya untuk datang padanya, dan pria tidak dapat lagi mengasumsikan bahwa mereka bisa menikah asal punya pekerjaan.

Standar ideal untuk menjadi suami dan istri menjadi semakin terus meningkat dan karena hal inilah, banyak orang yang merasa tidak memiliki kesempatan untuk berhubungan dengan seseorang sehingga hal ini mengakibatkan banyak orang yang urung untuk menikah.

Saat ini banyak sekali bisnis jasa yang berkaitan dengan pernikahan, bahkan ada sebutan “Konkatsu”, yang berarti sebuah aktivitas untuk mencari pasangan pernikahan. Dan tanpa kita sadari, pernikahan menjadi sebuah mimpi yang mulia.

Related article