16 December 2015
Review Anime Princess Kaguya Banner

Mengangkat cerita rakyat dengan gaya ilustrasi klasik Jepang, Takahata berupaya menempatkan film Princess Kaguya sebagai bagian dari rangkaian warisan sejarah kesenian Jepang yang berusia berabad-abad.

Japanese Film Festival yang diselenggarakan akhir November lalu turut menghadirkan sejumlah film animasi Jepang yang cukup terkini. Salah satunya adalah film produksi studio Ghibli yang berjudul The Tale of the Princess Kaguya (Kaguya Hime no Monogatari). Film yang disutradarai oleh Isao Takahata ini diangkat dari cerita rakyat Jepang Taketori Monogatari atau kisah kakek pengumpul bambu.

Diceritakan dalam film ini, seorang kakek pemotong bambu menemukan anak perempuan dari rebung bambu yang bercahaya, kemudian membesarkan anak tersebut bersama istrinya. Setelah menemukan emas dan pakaian indah dari batang bambu lainnya, si kakek mengajak keluarganya pindah ke ibu kota agar anak gadis yang ditemukannya bisa hidup sebagai putri bangsawan. Kabar mengenai kecantikan sang gadis yang kemudian diberi nama Kaguya itu kemudian tersebar dan menjadikannya rebutan dari pangeran dan pejabat-pejabat tertinggi di istana.

Review Anime Princess Kaguya

Satu hal yang cukup menarik dari versi film ini adalah penggambaran karakter Kaguya yang lebih “manusiawi”. Di saat ia memikirkan muslihat untuk menolak secara halus lamaran dari para pangeran dan pejabat istana, penonton dapat melihat dari sudut pandang Kaguya bahwa ia sebenarnya menyembunyikan rasa gugup. Begitu pun ketika para pelamar itu mempersembahkan harta yang mustahil didapat yang disyaratkan oleh Kaguya, ia pun menahan rasa gugup ketika menantang mereka membuktikan keaslian barang yang mereka bawa. Ia pun bisa merasa menyesal ketika salah satu pelamarnya mengalami celaka saat mencari harta yang disyaratkan. Dia tidak terasa sebagai suatu sosok yang keberadaannya melampaui manusia, tapi ingin mengalami kehidupan sebagaimana layaknya orang kebanyakan.

Review Anime Princess Kaguya

Aspek manusiawi dari karakter Kaguya di film ini juga tergambarkan melalui desain karakter Kaguya. Sementara secara keseluruhan tampilan visual dari film ini dibuat menyerupai ilustrasi gambar bercerita Jepang dari abad pertengahan, namun wajah Kaguya nampak tetap terlihat seperti seorang heroine khas film Ghibli. Hal ini memberi Kaguya kesan yang jauh dari kesan cantik yang high-class dan tertutup, namun justru seperti gadis yang cantik dalam kegesitan dan ketangkasannya serta terasa membumi.

Dan Kaguya pun sangat menghargai kehidupannya di Bumi yang fana, sekalipun ia mengamati berbagai penderitaan dan mengalami berbagai kesedihan. Justru pada silih bergantinya perasaan gembira dan derita, pada siklus kehidupan yang penuh cacat dan fana; di situlah ia dapat menemukan makna yang menjadikan hidup terasa berarti. Itu hal yang tidak ia temukan dari kehidupan di bulan yang suci dari segala “ketidakmurnian” (kegare) seperti yang dialami oleh makhluk-makhluk hidup di Bumi; kehidupan yang tanpa cacat, tidak dinamis, tanpa perubahan.

Bagi yang pernah membaca Touhou Bougetsushou: Silent Sinner in Blue (diterbitkan di Indonesia oleh Elex Media Komputindo) mungkin mengingat kontras antara kehidupan penduduk bulan dan Bumi ini diangkat juga di sana. Para penduduk bulan di Touhou Bougetsushou dengan angkuh membanggakan kehidupan mereka yang bebas dari kegare, dan menganggap makhluk Bumi yang hidup dengan kegare itu menyedihkan. Namun para youkai dari Bumi tidak menganggap kehidupan di Bumi sebagai hal yang perlu disedihkan; karena di dunia yang cacat dan fana itu mereka tetap dapat berpesta dan bergembira bersama.

Review Anime Princess Kaguya

Seperti telah disebutkan sebelumnya, salah satu ciri paling menonjol dari film ini adalah ia menggunakan gaya gambar yang menyerupai gaya ilustrasi emaki (gulungan gambar yang bercerita). Bahkan pada satu adegan di mana Kaguya sedang diajar oleh wanita bangsawan, sang wanita bangsawan menunjukkan kepada cara Kaguya cara melihat emaki yang gulungannya dibuka dan digulung kembali perlahan-lahan, membuatnya nampak seperti semacam proyeksi animasi.

Hal ini menarik untuk diperhatikan karena sutradara Takahata meyakini bahwa emaki adalah pendahulu dari animasi Jepang (lihat bab kedua dari buku Thomas Lamarre, The Anime Machine). Terutama melalui bukunya Juuni Seki no Animation (Animasi Abad Ke-12), Takahata membangun suatu narasi bahwa animasi Jepang merupakan penerus dari suatu bentuk seni yang telah ada di abad ke-12. Melalui film Kaguya, Takahata seperti ingin kembali menekankan dan mendemonstrasikan kaitan antara animasi Jepang dengan emaki tersebut.

Review Anime Princess Kaguya

Film Princess Kaguya ini adalah suatu karya yang menarik untuk diperhatikan. Interpretasi baru terhadap karakter Kaguya yang dihadirkan olehnya; dan upaya Takahata untuk menempatkan karya ini dalam kesinambungan sejarah seni Jepang dari ratusan tahun silam; merupakan hal-hal yang bisa direnungkan dan ditelaah lebih lanjut.

KAORI Newsline | Oleh Halimun Muhammad

Related article