06 Januari 2016
Japanese eat
Japanese eat
Nihon Shokuji

Siang Akiba-kei dan Akiba-chan, sering makan makanan Jepang? atau sering makan menggunakan sumpit? Kali ini Tim Akiba Nation bakal menjelaskan 5 hal menarik yang berkaitan dengan makan di Jepang yang mungkin kamu belum pernah dengar dan tidak ada di Indonesia. Simak, yuk!

1. Mematahkan Sumpit Kayu secara Nggak Seimbang = Bertepuk Sebelah Tangan

Japanese eat
Sumpit kayu

Pernah makan pakai sumpit kayu? Tahu, dong… Kalau misalnya kita makan di resto semacam hokben kita bakal dikasih sumpit kayu yang buat makan kita harus membelahnya sendiri terlebih dahulu. Nahh kadang-kadang tanpa pikir panjang, begitu sumpitnya udah dibelah, kita langsung makan aja tanpa memperhatikan belahan sumpitnya sempurna atau nggak.

Di Jepang ada cerita rakyat kalau sebelum membelah sumpitnya, kita pilih dulu, bagian kanan atau yang kiri sumpitnya, terus yang bagian satu lagi adalah bagian orang yang kita sukai. Setelah itu, baru, deh, membelah sumpitnya. Dari hasilnya nanti, bagian mana yang belahan sumpitnya paling besar, berarti orang itu yang perasaannya lebih besar. Misal, nih, kita pilih yang kanan, trus kita mikirin orang yang kita sukai di bagian kiri, pas ngebelah, ternyata bagian kiri lebih besar, berarti perasaan orang yang kita suka itu lebih besar daripada perasaan kita. Tapi, kalau bagian kanannya lebih besar, berarti bertepuk sebelah tangan deh. Kalau hasilnya sempurna? Berarti perasaan kalian imbang... hohoho

Mau percaya atau tidak terserah, deh. Sebelum membelah sumpitnya, latihan dulu ya..

2. Setiap Anggota Keluarga memiliki Peralatan Makannya Sendiri-Sendiri

Japanese eat
Piring pecah pertanda terjadi sesuatu pada pemiliknya

Sering ada, ‘kan, adegan di anime-anime atau di dorama, kalau salah satu anggota keluarganya kena masalah atau kecelakaan di jalan, tiba-tiba orang yang di rumah menyaksikan kejadian piring milik orang tersebut pecah “pyar”..

Di Jepang, meskipun sesama keluarga masing-masing anggota keluarga memiliki peralatannya sendiri-sendiri, lho... Mulai mangkuk, gelas, sumpit, dan lain-lain.

3. Kalau Habis Ditraktir Makan Tidak Lupa Mengucapkan “Gochisousama Deshita”, bahkan Sampai Kalau Bertemu Besok dengan Orang yang Menraktir, lho!!

Japanese eat
Berterimakasihlah selalu

Traktir-mentraktir. Kalau di Indonesia, siapa yang ngajak makan duluan, biasanya adalah pihak yang menraktir. Misal “eh, ke McD, yuk...” biasanya dia yang traktir. Tapi, ternyata di Jepang tidak demikian. Siapa pun yang mengajak duluan, tetap aja endingnya, bayar sendiri-sendiri.

Ada, sih, orang baik yang mentraktir kalau mengajak makan duluan meski nggak semuanya. Tapi kalau sudah ditraktir makan, orang Jepang tidak lupa mengucapkan terima kasih. Apabila “Itadakimasu” merupakan ucapan wajib yang dikatakan sebelum makan, maka “Gochisousama deshita” yang berarti terima kasih atas makanannya diucapkan di akhir makan. Biasanya disampaikan kepada orang yang telah memasakkan makanan, atau orang yang menraktir kita.

Nah di Jepang, walaupun kamu sudah mengucapkan gochisousama setelah ditraktir makan, kamu tetap wajib mengucapkannya kembali apabila besoknya bertemu. Seperti yang orang Jepang sering katakan “Kinou wa gochisousama deshita”, kemarin makasih, ya, makanannya..

4. Kalau Diajak Makan oleh Bos, yang Pertama dan Kedua harus Diterima, Kalau yang Ketiga Wajib Ditolak

Japanese eat
Ah nggak usah, terima kasih

Hubungan antar pekerja kantoran, nih. Beda dengan makan-makan bersama, lho, ya. Kalau kamu sebagai pegawai di sebuah kantor dan kamu diajak makan pribadi bersama bos, kamu wajib menerimanya. Eits, tapi cuma untuk yang pertama dan kedua kalinya, lho, ya! Untuk yang ketiga, say NO! dengan sopan, sih.

Bukan bermaksud sombong, katanya, sih, untuk manner di sana. Penolakan ajakan makan yang ketiga, berarti kita bukan orang yang bermaksud “mendekati” bos kita karena uang/makanannya saja.. Iktikad baik gitu..

5. Kalau Dipermasalahkan Di Dunia Bahan Makanan Indonesia adalah Ikan Busuk dan Ikan Segar, maka yang dipermasalahkan di Jepang adalah Ikan Budidaya atau Ikan Laut Asli yang Segar

Japanese eat
Ini, nih, yang namanya ikan budidaya

Ini, nih, yang gak kalah uniknya. Kalo di TV Indonesia sering banget membicarakan masalah makanan yang mengandung boraks, pengawet jahat, serta makanan yang berasal dari ikan busuk, permasalahan bahan makanan di Jepang sangat berbeda, lho!

Bedanya apa?

Kalau makanan busuk atau pakai bahan-bahan kimia jahat, sih, udah pasti nggak boleh. Tapi yang marak di Jepang adalah pemalsuan label ikan budidaya sebagai label ikan asli laut.

Hah? Apa itu?

Jadi, tahu kan ikan budidaya? Ikan budidaya itu ikan yang diternakkan, sedangkan ikan laut itu ikan yang bebas di laut terus ditangkap sama nelayan. Nah, ikan budidaya itu sering dipalsulabelkan dengan ikan laut asli. Orang Jepang yang nggak terima bisa dilaporkan tuh tokonya, terus dicabut izinnya.

Eits, ’kan, itu bagi pemikiran kita. Bagi pemikiran masyarakat Jepang, ikan budidaya yang diternakkan dalam tempat yang terlalu sesak untuk banyak ikan, ikan-ikannya kurang olahraga! Jadinya dagingnya terlalu banyak lemak dan rasanya kurang enak. Beda dengan ikan laut asli yang berenang bebas di lautan, mereka banyak bergerak di tempat yang luas, apalagi pada saat menghindari dari pemangsanya, bisa renang sampai ngos-ngosan tuh..

Gimana? Menarik ya?

Akiba Nation / Yuki Nyan

Related article

Komik / Manga Baru