09 Mei 2016
tradisi perjodohan omiai populer jepang

Pernikahan melalui proses omiai masih banyak terjadi di Jepang

Jepang sedang mengalami krisis kelahiran. Salah satu sebabnya adalah rendahnya angka perkawinan di negara tersebut. Kurang lebih 50% wanita Jepang yang berusia 30 tahun belum menikah.

Hal ini disebabkan wanita dan laki-laki Jepang di usia produktif kerjanya tidak sempat untuk bergaul dikarenakan memiliki jam kerja yang panjang.

Tetapi ada juga sebagian masyarakat yang walaupun mempunyai jam kerja yang padat ingin segera menikah dan membangun rumah tangga. Salah satunya dengan mengikuti omiai.

Omiai sendiri bisa dikatakan perjodohan yang melibatkan orangtua dari kedua belah pihak. Ada juga yang melakukannya seperti kencan buta, bedanya pada kencan tersebut, satu sama lain saling menceritakan diri masing-masing dan mengharapkan terjadinya persetujuan untuk menikah.

Di zaman modern ini, ada yang menyedian jasa perantara untuk omiai. Jasa pertama, orang yang ingin melakukan omiai mengajukan proposal ke perantara. Kemudian perantara tersebut memilih dua pasangan yang cocok menurut latar belakang masing-masing

Pada pertemuan pertama biasanya hanya sekedar basa-basi dengan saling bertukar informasi. Kemudian di akhir pertemuan akan diputuskan akan dilanjutkan atau tidak. Hal ini pun juga harus disetujui oleh orangtua dari kedua belah pihak.

Kedua pasangan yang akan dijodohkan bertemu secara langsung di tempat yang kesannya pribadi seperti ruang privat hotel, rumah si laki-laki, maupun rumah si perempuan.

tradisi perjodohan omiai populer jepang

Pakaian yang dikenakan pun harus formal dan biasanya beberapa orang memakai pakaian tradisonal Jepang.

Kedua belah pihak melakukan acara makan bersama. Dan setelah acara pendahuluan itu selesai, biasanya para orangtua akan meninggalkan pasangan tersebut berbincang bincang berdua untuk saling mengenal.

Jasa kedua memili cara yang lebih simple. Perantara akan menggelar pesta yang diikuti oleh anggota omiai dengan harapan dalam pesta tersebut mereka saling berinteraksi dan bertukar informasi sehingga mendapatkan pasangan yang cocok.

Biasanya pada saat omiai, pasangan tidak membicarakan hal seperti mantan kekasih, pandangan politik, masalah pendapatan, dan agama.

Ketika telah dilakukannya pertemuan secara berkala, pasangan akan memutuskan akan menikah atau tidak.

Jika terjadinya pernikahan, si perantara akan mendapatkan 10% dari mas kawin sebagai tanda terima kasih dan bisa menjadi pendamping mempelai sebagai pengganti peran orangtua.

Pernikahan yang terjadi dengan menggunakan tradisi omiai ini biasanya bertahan lama karena pasangan menghormati tradisi dan menghargai sebuah perkawinan.

Faktanya, tingkat perceraian pasangan yang melakukan omiai sangatlah rendah dan sampai sekarang pun omiai menjadi salah satu tradisi yang paling populer di Jepang.

The Daily Japan / Tryas Lazuardy

Related article