11 Mei 2016
Ohaguro Pesona Kecantikan Tradisional Jepang

Ohaguro, yang secara harafiah dapat diartikan sebagai “gigi dihitamkan” adalah sebuah praktek di mana wanita akan menghitamkan giginya.

Jepang selain memiliki pesona wisata yang indah, juga dikenal sebagai negara yang memiliki kultur dan budaya yang melimpah. Salah satu yang menarik adalah Ohaguro.

Ohaguro Pesona Kecantikan Tradisional Jepang
Seorang Geisha dengan Ohaguro

Meski praktek mewarnai gigi dikenal juga di Asia Tenggara, Pasifik dan Amerika Selatan, yang paling dikenal adalah di Jepang.

Tidak diketahui pasti kapan dan bagaimana kebiasaan ini bermulai. Akan tetapi kebiasaan ini menjadi populer pada periode Heian (abad ke 8 – 12 Masehi).

Pada waktu ini, para bangsawan, terutama wanita mempraktekkan kebiasaan ini. Tren ini mengimbangi salah satu tren kecantikan lainnya di masa yang sama.

Selain gigi hitam, wajah yang dipoles putih juga menjadi sangat diminati di periode Heian ini.

Ohaguro Pesona Kecantikan Tradisional Jepang

Sayangnya, proses kosmetik yang memutihkan wajah ini biasanya membuat gigi nampak lebih kuning dari sesungguhnya. Untuk mengatasi masalah ini maka para wanita kemudian menghitamkan giginya.

Konon praktek menghitamkan gigi juga dapat memperkuat gigi dan melindungi dari gigi berlubang. Selain itu, praktek ini juga melambangkan kesetiaan pada tuannya bagi para samurai.

Tradisi ini terus dipraktikkan di berbagai periode sejarah Jepang. Pada periode Edo (abad 17 – 19 Masehi), praktik ini telah meluas dari kalangan bangsawan ke rakyat jelata juga.

Kebiasaan ini berkembang bagi wanita yang sudah berkeluarga, wanita di atas usia 18 tahun, para PSK dan geisha. Jadi gigi hitam melambangkan kedewasaan secara seksual.

Di periode Meiji, yang mengikuti periode Edo, praktek Ohaguro tidak lagi menjadi trendy. Sebagai upaya modernisasi, Pemerintah Jepang melarang praktek Ohaguro pada tahun 1870.

Mengikuti kebiasaan yang lazim sekarang, gigi dibiarkan warna aslinya. Hal ini diperkuat ketika Permaisuri Kaisar Jepang muncul di depan umum pada tahun 1873 dengan gigi putih.

Hal ini menandakan akhir tren Ohaguro sebagai lambang kecantikan. Di beberapa wilayah yang didiami kaum geisha (wanita penghibur Jepang), masih ditemukan wanita mempraktekkan Ohaguro.

The Daily Japan / Redaksi

Related article