7 Juni 2016
masjid terbesar jepang non muslim

Masjid Tokyo Camii adalah yang terbesar di Jepang

Di jantung daerah perumahan yang tenang di Yoyogi Uehara, tidak jauh dari pusat kota yang ramai di Shinjuku dan Harajuku, terdapat sebuah bangunan yang menjulang tinggi dengan menara dan kubah yang mengesankan membuatnya menonjol dari arsitektur sekitarnya.

Bangunan itu adalah Tokyo Camii, Masjid terbesar di Jepang, dibangun dengan gaya Ottoman dengan nuansa modern yang mengesankan. Arsitekturnya mirip dengan Masjid Biru yang tersohor di Istambul dan material dari Masjid Camii memang didatangkan langsung dari Turki.

Sekitar seratus pengrajin Turki bekerja selama satu tahun untuk membangun lantai dua Masjid dan pusat budaya yang terletak di lantai bawah. Bangunan ini adalah sebuah karya seni yang mempunyai pesona luar biasa sebagai tempat suci.

masjid terbesar jepang non muslim

“Sayangnya, sebagian besar sejarah Jepang tidak ada kontak langsung dengan dunia Islam,” ujar Nurullah Ayaz, imam di Tokyo Camii.

Barulah pada abad kedua puluh, bahwa komunitas Muslim pertama menempatkan dirinya di Jepang. Masjid pertama di Tokyo dibangun oleh Tartar yang datang ke Jepang sebagai pengungsi setelah Revolusi Rusia pada tahun 1917.

Mereka adalah kelompok Turki, yang datang ke Jepang melalui Siberia dan China. Sebagai Muslim, hal pertama yang mereka ingin lakukan di Jepang adalah untuk membangun sebuah sekolah untuk anak-anak mereka dan untuk membangun sebuah masjid di mana masyarakat bisa berdoa.

Muslim ini mendapat izin dari pemerintah Jepang pada tahun 1928, dan sekolah dibuka pada tahun 1935. Masjid pertama selesai tiga tahun kemudian, pada tahun 1938.

masjid terbesar jepang non muslim

(Kiri) Sekolah di Tokyo untuk anak-anak Muslim, yang dibuka pada tahun 1935. Ada rencana untuk menghancurkan sekolah yang mulai menua, dan akan digantikan dengan pusat budaya Turki.

(Kanan) Masjid pertama Tokyo, dibangun pada tahun 1938 dan menjadi prekursor Tokyo Camii. Bangunan asli dihancurkan pada tahun 1986, dan bangunan yang sekarang selesai dibangun pada tahun 2000.

Sholat Jumat di Tokyo Camii biasanya dihadiri oleh sebagian besar jamaah asing. Hal ini membuat pengelola masjid berinisiatif agar khotbah Jumat disampaikan dalam bahasa Turki, Jepang, dan, Inggris. Uniknya, pengunjung masjid ini tidak selalu umat Muslim. Pemeluk keyakinan lain pun diizinkan masuk ke sini.

Para pemeluk agama lain biasanya datang kesini untuk mengistirahatkan diri mereka setelah melakukan aktivitas yang padat dan banyak juga yang datang untuk mencari informasi tentang Islam.

Terbuka untuk pengunjung non-Muslim

Nurullah Ayaz juga mengungkapkan jika pihak Masjid akan sangat terbuka untuk memberikan info seputar Islam kepada para pengunjung dengan pembahasan yang mudah dimengerti.

“Kami memberi mereka etika ketika mengunjungi masjid. Misalnya, wanita menutupi kepala mereka dengan jilbab sebelum mereka memasuki masjid.”

“Kami memiliki kain kepala yang tersedia di pintu masuk untuk menutupi rambut mereka dan setiap kulit yang terbuka. Pria tidak bisa masuk masjid dengan celana pendek.”

masjid terbesar jepang non muslim

Salah satu warga Jepang non-muslim yang suka berkunjung ke Tokyo Camii adalah Okabe Yoshiko (kiri), seorang ahli aromaterapi yang tinggal di daerah dekat masjid tersebut.

Ia memanfaatkan kunjungannya ke Tokyo Camii untuk berkontemplasi. “Mengunjungi tempat sakral seperti masjid bisa menguatkan jiwa. Hati jadi tenang dan menyatu dengan alam sekitar”, katanya.

Nasser dari Perancis (tengah) mengunjungi Jepang dari Dubai. “Saya tahu tentang Tokyo Camii dari Internet. Saya pikir Jepang adalah negara yang sangat spiritual. Penduduknya ramah dan menghormati sesama, semuanya terasa sangat alami. “

Sedangkan Sagawa Nobuko (kanan) adalah seorang kaligrafer yang mempelajari kaligrafi Arab sejak usia muda.

The-Daily Japan / Dshiryu13

Related article

Komik / Manga Baru