24 Juni 2016
ibadah puasa di sakura menghormati puasa

Melaksanakan ibadah puasa di Jepang sedikit banyak mengajarkan arti saling menghormati

Menjalankan ibadah puasa di bulan suci ramadan adalah kewajiban bagi seluruh umat Muslim di dunia, tidak terkecuali di Jepang. Berbeda dengan di Indonesia, pemeluk agama Islam di Negeri Sakura masih menjadi minoritas. Hal yang membuat orang-orang yang menjalankan puasa di Jepang harus bisa lebih menahan diri.

Saat bulan puasa di Jepang, tidak ada larangan untuk tempat-tempat makan beroperasi saat siang hari, tidak ada juga larangan konbini menjual minuman beralkohol, ini adalah situasi yang harus dihadapi oleh kami, umat Muslim yang berada di Jepang.

Berpuasa di Jepang, tepatnya di Tokyo memang berlangsung sedikit lebih lama, yakni sekitar 16,5 jam. Sekarang ini situasi bisnis makanan di Jepang sudah jauh lebih bersahabat untuk umat Muslim dengan semakin banyaknya tempat makan yang menyajikan makanan bersetifikat halal.

Saat siang hari, cobaan untuk menahan hawa nafsu, terutama menahan diri dari rasa lapar dan haus memang terasa lebih berat daripada ketika kami berada di Tanah Air. Jika di Indonesia, kita sering mendengar slogan “hormati yang berpuasa” di Tokyo justru kebalikannya, “hormatilah yang tidak berpuasa.”

Tentu kami tidak bisa melarang mereka untuk tidak makan dan minum di depan kami saat siang hari, namun bukan berarti mereka tidak menghargai. Sedikit banyak mereka pun tahu tentang kewajiban berpuasa yang dilakukan umat Muslim.

Beberapa teman kami selalu mengucap kata “gomen” saat makan di siang hari, dan saat waktu berbuka puasa tiba, mereka mengucapkan “otsukare” dan tersenyum puas dengan keberhasilan kami menjalankan ibadah puasa. Ini sudah lebih dari cukup menggambarkan arti saling menghargai dalam kehidupan beragama.

ibadah puasa di sakura menghormati puasa
Suasana buka puasa di Tokyo Camii

Saat akhir pekan, kami biasanya menyempatkan diri untuk ikut berbuka puasa di Tokyo Camii, masjid terbesar di Jepang yang terletak di Yoyogi. Di sini semua umat Muslim dari berbagai penjuru dunia yang tinggal di Tokyo berkumpul. Rasa kekeluargaan yang erat, meski kami berasal dari negara yang berbeda benar-benar tercipta.

Tokyo Camii juga terbuka untuk pengujung non-Muslim, para pengurus Masjid juga akan memberikan makanan gratis untuk mereka yang datang meski tidak menjalankan ibadah puasa. Mereka justru senang ada pengunjung yang memeluk agama lain tapi ingin mengetahui tentang Islam dan ibadah puasa.

Akhir kata, menjalankan ibadah puasa jauh dari orangtua dan Tanah Air justru mengajarkan kami tentang apa arti saling menghargai dan menghormati secara kesuluruhan. Semua akan kembali ke individu masing-masing dalam menjalankannya. Jika memiliki iman yang kuat, tidak akan perduli seberapa besar cobaan yang harus dihadapi.

Melihat orang yang makan dan minum saat kami sedang menjalankan puasa bukan menjadi alasan untuk membatalkan atau tidak berpuasa. Justru dengan menghormati mereka, kami merasa puasa kami semakin bermakna.

Salam hangat (Jepang sebentar lagi akan memasuki musim panas) dari Tokyo!

The Daily Japan / Redaksi

Related article